Penampang Melintang Jalan Raya

Penampang melintang jalan adalah suatu potongan jalan yang tegak lurus pada sumbu jalan yang menunjukkan bentuk serta susunan bagian-bagian jalan yang bersangkutan dalam arah melintang. Penampang melintang yang digunakan harus sesuai dengan klasifikasi jalan dan kebutuhan lalu lintas yang bersangkutan, demikian pula lebar badan jalan, drainase dan kebebasan pada jalan raya harus disesuaikan dengan peraturan yang berlaku. Berikut adalah Bagian Potongan Melintang Jalan:

1. Jalur Lalu Lintas

Jumlah jalur yang dibutuhkan untuk memenuhi persyaratan rencana volume lalu lintas harian ditentukan seperti pada tabel berikut:

                                                Tabel Jumlah Jalur Lalu Lintas
VLR (smp/hr)
Medan
Fungsi
Lajur
>=138.000
36.000 138.000
< 36.000
>=156.000
41.000 156.000
< 41.000

D, B


G




Jalan Arteri
6
4
2
6
4
2
>=36.000
36.000
>=41.000
41.000
D, B


G


Jalan Kolektor
4
2
4
2
                      Sumber: SSPGJLK, 1990

Untuk jumlah jalur, didapat dari perbandingan volume lalu lintas standar (VLS) dan volume lalu lintas rencana (VLR) pada jalan raya yang diproyeksikan. Proses untuk mendapatkan VLS adalah sebagai berikut. Dalam hal VLR melebihi VLS pada perencanaan awal, jalan raya harus ditingkatkan kapasitasnya dengan melebarkan atau menambah jumlah jalur. Pokok ketentuan ini adalah mencari batas-batas VLR untuk 2-jalur, 4-jalur, dan 6-jalur bagi jalan dengan penampang standar. Jalan lokal dihilangkan dalam ketentuan ini karena kebanyakan diantaranya mempunyai lalu lintas rendah sehingga tidak membutuhkan jalur ganda.

Baca juga:

2. Bahu Jalan

Bahu jalan adalah bagian mafaat jalan yang berdampingan dengan jalur lalu lintas untuk menampung kendaraan yang berhenti, keperluan darurat dan pendukung samping bagi lapis pondasi tanah, pondasi atas dan pondasi permukaan. Fungsi utama bahu jalan adalah:
  • Untuk melindungi bagian utama jalan 
  • Sebagai tempat berhenti kendaraan yang mogok atau sekedar berhenti untuk berorientasi terhadap jurusan yang akan dituju. 
  • Menyediakan ruang bebas samping bagi lalu lintas. 
  • Meningkatkan jarak pandangan pada tikungan. 
  • Sebagai trotoar jika tidak ada trotoar. 
  • Tempat meletakkan rambu-rambu lalu lintas, dll. 
Bahu jalan sesungguhnya digunakan untuk mencegah meningkatnya gangguan dari sisi jalan dan kapasitas jalan raya. Lebar bahu jalan harus ditentukan dengan mempertimbangkan manfaat maupun biaya pembangunannya. Lebar bahu jalan menurut SSPGJLK adalah:

                                                  Tabel Lebar Bahu Jalan
Kelas
1 & 1*
2& 2*
3 & 3*
4 & 4*
5 & 5*
Lebar minimum mutlak
1,25
1,00
0,75
0,75
0,75
Lebar yang diinginkan
3,00
2,50
2,50
2,50
1,50
           Sumber: SSPGJLK, 1990

Pengurangan lebar bahu jalan kelas 1 sama sekali tidak dianjurkan, bahkan harus ada bahu lunak selebar minimum 2 m di luar tepi bahu. Hal yang sama juga dianjurkan untuk jalan kelas II A bila segala sesuatu memungkinkan. Meskipun bahu jalan lebih baik diberi perkerasan untuk meningkatkan fungsinya, suatu bahu tanpa perkerasan atau bahu lunak dapat dipakai agar biaya konstruksi lebih ekonomis. Permukaan bahu harus berada pada ketinggian yang sama seperti tepi perkerasan, dalam keadaan bahu jalan itu diberi perkerasan atau tidak.

3. Talud

Talud berfungsi untuk menahan badan jalan. Talud juga merupakan lereng parit yang dapat bertindak sebagai bagian dari bahu. Talud dapat terdiri dari tanah, rumput atau pasangan penahan tanah.

4. Drainase (Parit Tepi)

Perlengkapan drainase merupakan bagian yang penting pada suatu jalan dan harus direncanakan berdasarkan data-data hidrologi seperti intensitas, lama dan frekuensinya, besar dan sifat alirannya dan lain-lain. Drainase haruslah dapat membebaskan pengaruh buruk akibat air terhadap konstruksi pengerasan.

5. Median

Jalan raya yang mempuyai 4 jalur atau lebih harus mempunyai median. Fungsi utama median adalah untuk memisahkan dua jurusan arus lalu lintas demi keamanan, dengan demikian memungkinkan kecepatan yang tinggi, guna membatasi belokan U agar lalu lintas lancar, untuk membentuk jalur belok kanan pada persimpangan dan untuk mengurangi sorotan lampu. Lebar median jalan menurut SSPGJLK adalah:
                                                      Tabel Lebar Median Jalan
Kelas
1 & 1*
2
3 & 3*
Lebar minimum mutlak median
0,5
0,5
0,5
Lebar minimum standar batas
2,0
1,5
1,0
                      Sumber: SSPGJLK, 1990

6. Trotoar

Trotoar tidak dibutuhkan pada jalan raya diluar kota jika lalu lintas dan kepadatan penduduk rendah. Sebagian bahu jalan dapat menggantikan fungsi trotoar. Jika volume lalu lintas atau jumlah pejalan kaki lebih tinggi, maka harus dipakai bahu jalan yang lebih lebar. Lebar trotoar tergantung pada kondisi, dan sebaiknya selebar 3,0 m.

Baca juga:

7. Lebar Manfaat

Lebar manfaat adalah bagian dari jalan raya yang berguna langsung untuk lalu lintas. 

8. Badan Jalan

Badan jalan adalah bagian penting bagi pemakai jalan dan meliputi jalur lalu lintas, median dan bahu jalan.

9. Daerah Pembebasan

Daerah pembebasan adalah daerah yang disediakan untuk keperluan jalan dan perlengkapannya.
Penampang Melintang Jalan Raya
Gambar Penampang  Jalan

Ada beberapa istilah dalam penampang melintang jalan:
  • Daerah Milik Jalan (DAMIJA) adalah seluruh daerah manfaat jalan berikut jalur tertentu di luar daerah manfaat jalan tersebut yang ditujukan untuk memenuhi kondisi ruang bagi pemanfaat jalan. 
  • Daerah Manfaat Jalan (DAMAJA) adalah meliputi seluruh jalur lalu lintas (badan jalan, saluran tepi dan ambang pemangaman). 
  • Daerah Pengawasan Jalan (DAWASJA) ditujukan untuk penjagaan terhadap terhalangnya pandangan pengendara bermotor dan untuk konstruksi jalan, jika ruang daerah milik jalan tidak mencukupi.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Penampang Melintang Jalan Raya"

Post a Comment